Sebagai teman di kala kita minum secangkir Kopi!
( Kisah
Begitu jernihnya air itu turun dari langit. Diserap oleh gunung-gunung beserta pepohonannnya. Mengalir bercabang-cabang menjadi sungai - sungai. Selalu turun ke bawah, ke bawah dan ke bawah. Ia mencari tempat terendah. Persatuan kembali. Samudera lepas. Sesampai di sana air itu ingin naik kembali. Menguap melebur. Menjadi sesuatu yang jernih kembali.
Layaknya air, sebuah ajaran moral turun dari langit begitu jernihnya.
Sebagian ulah manusia ini membuat air menjadi keruh.
Kemudian orang -orang secara aklamasi maupun tersistem oleh sebuah kekuatan yang rapi, memproklamirkan bahwa inilah satu-satunya bentuk air yang sah.
Kita terbiasa menuhankan botol-botol lembaga. Baik lembaga yang bernama kharisma individu, swasta atau negara. Sehingga kecondongan hati kita terhadapnya sepadan persis sama beratnya dengan kecondongan terhadap Tuhan. Bisa jadi Tuhan itu malah nomor dua bahkan kancrit buncit karena kita tak begitu percaya akan kedekatanNya. Walaupun kitab suci secara bloko sutho sudah ngomong apa adanya akan hal itu. Sebab ada yang bilang Tuhan itu nggak ada. Kalaupun ada ya masih sebatas retorika katanya ataupun hanya bukti keajaiban alam yang menunjukkan adanya peran Tuhan di balik semua itu . Bukan bukti wujud atau dzat.
"Hidup modern harus logis dan serba techno bung ! Jangan ngomong Tuhan yang keberadaannya sampai ini tak bisa dideteksi dengan tehnologi tercanggih", begitu semboyan kita saat ini. Dan tiba-tiba kita lebih sami'na wa ato'na terhadap apapun yang berbau tehhno.
Pada tahap akut pengkaburan pemahaman antara air dan botol, pikiran sudah terbiasa dengan: tak ada air nggak apa-apa asal ada botol. Tak ada rotan akar pun jadi.
Seperti beberapa waktu lalu saya tertawa terpingkal-pingkal melihat teman saya yang misuh-misuh. Kurang ajar ! Dod, kemarin karena macet karnaval, aku akhirnya numpang mobil box. Eh..dia ngangkut mie instan bermerk "Islamie". Setelah saya tanya sopirnya: "
"Kapokmu kapan !", saya cuma bisa berkomentar sependek itu.
Kesalahpahaman pemaknaan, keremangan memandang masalah, dan ketersesatan itu ternyata begitu menyelimuti kita semua. Dari rangkaian keilmuan dan pengalaman yang mengerucut pada kata sesat atau tidak, ternyata hanya karena urusan bentuk botol. Bukan kejelian memandang aliran air.
Orang-orang yang bijaksana seharusnya mampu membebaskan air-air dalam botol, mewakafkan tanahnya untuk dilalui arus besar air yang tak punya jalan mengalir menuju samudera. Bukannya malah memecah botol sambil mengganti dengan botol baru yang sesuai dengan selera penafsirannya Kita ini memang pecinta aliran dan bentuk daripada belajar mencintai samudera tak terbatas karena aliran mudah dikendalikan. Sedangkan samudera tidak. Kita senang menyumbat aliran-aliran kecil. Menghadang, menohok dan gemagah menginjak yang kecil agar eksistensi sebuah imperium aliran besar tetap terjaga. Tak ada kelegawaan untuk bertemu, berdialog, membimbing dan kemudian berfastabiqul khairat : ayo siapa yang mampu menempuh jalan terendah agar air cepat sampai ke samudera...
Sekali aliran tetap aliran. Sama sekali bukan samudera. Tak peduli arus mainstream atau minor.
Mungkin kegamangan akan perjalanan menuju samudera hanya karena kita tak terbiasa di tempat yang luas. Memang sih bagi yang nggak biasa, hidup di samudera itu nggak enak. Nggak jelas lor kidul. Semua membaur menjadi satu. Tak bisa membedakan asal usul aliran. Tak ada suku dan keturunan.Tak ada pengkaplingan. Tak ada lagi jahitan. tak ada motif. Tak ada warna. Persisi seperti kain ihram.
Berdiam hening di padang penyaksian yang sangat luas.
Ternyata kita yang masih suka aliran-aliran dan lembaga, masihlah sebentuk air yang belum tuntas perjalanannya menuju samudera. Masih ada kemungkinan air ini tak sampai ke samudera alias tersesat. Bila saja kita berani meneruskan perjalanan, biasanya pada muara batas antara aliran sungai dan samudera, antara air tawar dengan air asin, akan terlihat papan pengumuman yang besar sekali :
. ... Selamat datang
Tunggal ilmu ojo adu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal agomo ojo padu. Belum kenal Tuhan jangan belagu..
Sama-sama cari makan, sesama sesat dilarang saling menyesatkan Jikalau kalau Jikalau ada hadits yang menyatakan umat Islam terpecah menjadi tujuh puluh tiga aliran golongan dan hanya satu yang benar, mari menegaskan kepada diri sendiri bahwa yang satu golongan benar itu bukan diri kita. Tak lain agar kita lebih serius dan khusyu ber
Kalau ada potongan bagian yang terlalu pedas karena banyak paprika nya, jangan tergesa membuang. Taruh dulu, nanti kalau badan lagi lemes kan bisa buat tombo ngantuk.
Jikalau ada potongan bagian yang nggak ada dagingnya alias sayur thok, jangan grusa-grusu bilang nggak mau. Taruh dulu. Nanti ketika kolesterol dan tekanan darah meninggi, kita pasti butuh bagian itu.
Kalau kita tidak bisa memakan semua, cara tergampang adalah ; ambil titik tengahnya. Kosong. Nol.
Tidak memakan apa-apa namun berada di tengah dilingkupi semua potongan. Puasa. Enaknya metode ini, tak ada seorangpun yang mampu menggugatnya. Karena puasa satu-satunya ibadah rahasia antara mahluk dengan Khaliknya. Dalam rumus matematika biner, puasa adalah bilangan Nol, sedangkan utuhnya kue pizza adalah bilangan satu.
Bila angka nol dan satu telah berpadu serasi bergantian saling meng-"ada", tentu akan menjadi program yang sangat dahsyat. Menjadi aplikasi nyata.
Jikalau kita pengen khusyuk menghamba pada
Kalau kita mengaku tidak sesat, sudah seharusnya berani memproklamirkan diri: "
Kalau saya pribadi sih cari selamatnya saja. Pakai doanya
"Ya
Minimal kalau saya tersesat, mbok diingatkan bagaimana saya harus menggoyang-goyangkan badan, mencubiti kulit dan membelalakkan mata agar tetap tersadar bahwa saya ini tersesat di bumi
Wassalam
0 Komentar:
Post a Comment